Minggu, 31 Maret 2013

Petani, seorang pejuang hebat

        Petani, terlintas kah di benak Anda tentangnya? Petani identik dengan orang yang miskin, kotor, kumuh, jorok, dan sebagainya. Mungkin sebagian orang berpikiran seperti itu, bahkan mungkin ada yang parah lagi. Kasian ya si Petani harus menanggung derita dan rasa malu akibat di cemooh oleh orang-orang yang merasa dirinya lebih daripada mereka.
         Sebenarnya Indonesia mempunyai Lahan kekayaan yang luas, akan tetapi jarang yang bisa memanfaatkannya.


Pertanian di Indonesia yang luas, dan berbagai macam bibit ditanam dan dibesarkan
sumber gambar: nunihandayani.blogspot.com
         Petani Indonesia sangat jauh dibawah rata-rata petani di negara lain. Petani Indonesia belum mengupayakan pertanian yang dianggap efisien, cepat, mudah, dan tidak menguras tenaga. Seiring dengan perkembangan zaman, di negara-negara Eropa dan Asia sudah mengandalkan inovasi yang dicetuskan oleh para ahli untuk menghasilkan sumber daya pangan yang prima dan berkualitas. Mereka sudah menggunakan alat-alat modern sehingga pekerjaan sedikit lebih efektif ketimbang tradisional, selain itu benih yang dipakai pun harus kualitas baik agar nilai jualnya pun lebih bagus.
Mari kita lihat Pertanian di negara Maju.


di Jepang telah dikembangkan inovasi seperti gambar diatas
sumber gambar : http://magentarosmaya186.blogspot.com/2012/10/sosiologi-kependudukan.html


Pertanian di Negara Maju, mereka menciptakan inovasi melalui perkebunan atau lahan diatas rumah mereka
sumber gambar : http://magentarosmaya186.blogspot.com/2012/10/sosiologi-kependudukan.html


  
        Seperti di Jepang, mereka mengandalkan pola pertanian in-door yang dianggap menghasilkan panen yang baik. Sistem pencahayaan yang cukup, dan terhindar dari gangguan bencana alam seperti Banjir yang dapat menyebabkan petani gagal panen dan menimbulkan banyak kerugian.

        Tak Hanya di Jepang, di negara maju yang lain telah muncul ide-ide yang sudah dulu mereka keluarkan dan ditampung untuk kemudian dikaji dan dipertimbangkan kembali. Setelah dikaji dan dipertimbangkan akhirnya mereka memilah-milah manakah sistem pertanian yang cocok untuk daerahnya yang memilki iklim berbeda, jenis tanah, saluran irigasi dll. Semuanya perlu kalkulasi yang tepat sehingga yang namanya gagal panen dapat di minimalisir.

         Tetapi, menjadi seorang petani yang sukses di negara maju bukanlah hal yang sepele, terkadang mereka harus menanggung kerugian seperti gagal panen, terkena banjir, atau kekeringan. Karena di setiap negara pastilah iklim dan cuacanya berbeda. Perjuangan pak Petani sungguhlah berat karena dia harus bersabar untuk menjaga pertaniannya agar tidak dimakan burung, hama, dll. Untuk memenuhi kebutuhan yang banyak dan disetorkan ke Seluruh Indonesia harus melalui proses panjang yaitu pembajakan, penyemaian, penanaman bibit, mengairinya, menunggu hingga kuning, di slep hingga menjadi butiran beras dan menjadi nasi yang dapat untuk bertahan hidup. apalagi ditambah dengan alat-alat yang masih tradisional sekali. 
Petani di Indonesia yang masih menggunakan kerbau untuk membajak sawah
sumber gambar : bisnis-bayu.blogspot.com

            Sebagai negara Agraris, Indonesia mempunyai Ribuan hektar sawah yang luas, akan tetapi persediaannya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan beras di Indonesia. Indonesia harus mengimpor beras dari Thailand agar persediaan beras yang kurang dapat terpenuhi. Kendala-kendalanya berbagai macam, bayangkan jika setiap sekali panen bisa menghasilkan 1 - 2 ton beras. Itu pun masih kurang untuk dipasarkan. Seharusnya jika Kota-kota besar tidak dibangun gedung-gedung, perusahaan pasti lah Indonesia makmur dan tidak perlu lagi mengimpor beras lagi. 

          Sekarang ini apa-apa serba impor dari luar negeri seperti Makanan, minuman, pakaian, Telekomunikasi, Handphone, Komputer, Tablet, daging, dll. Memang sih sebagai sebuah negara kita membutuhkan negara lain untuk terpenuhinya kebutuhan manusia. memang stok persediaan beras di Indonesia masihlah kurang untuk memenuhi pasaran beras di Indonesia. Memang sawah di Indonesia luas, tapi petani kita yg masih tradisional tidak dapat memanfaatkan ladang sawahnya semaksimal mungkin.

           Berbagai faktor pun datang yang membuat petani di Indonesia kalah dengan petani di negara lain. faktor-faktornya sebagai berikut : 
  1. Kurangnya sarana dan prasarana
  2. Kurangnya pemahaman tentang pertanian modern
  3. Pendidikan
  4. pengiriman yang terlambat
  5. Kurangnya penggunaan alat-alat yang memadai
  6. Sistem irigasi yang buruk
  7. Hama-hama yang menyerang ladang
         Nah, dari penjelasan berikut IPB adalah Lembaga tinggi pendidikan pertanian di Bogor, IPB bekerja di bidang-bidang tertentu, seperti pertanian, Kedokteran Hewan, Perikanan dan ilmu kelautan, Peternakan, Kehutanan, Teknologi pertanian, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Economi Manejemen, Ekologi Manusia, dll.

         IPB sebagai Sekolah tinggi di bidang pertanian sangat berarti bagi petani-petani Indonesia, karena mahasiswanya dituntut untuk mengembangkan teknologi pertanian yang modern, ramah lingkungan, ekonomis, dan harga yang terjangkau sehingga petani Indonesia dapat maju di bidang pertaniannya.

       sebagai Sekolah Tinggi dibidang pertanian IPB harus memberikan apresiasinya dan ide-ide yang baru untuk lebih memajukan pertanian Indonesia agar kita tidak usah impor beras lagi dari Thailand dan pertanian Indonesia dapat lebih baik dari pertanian yang sekarang ini.

Majulah PERTANIAN Indonesia.........!!!!!!





Untuk informasi lebih lanjut dapat Anda kunjungi website resmi IPB

www.admisi.ipb.ac.id
www.ipb.ac.id

0 komentar:

Posting Komentar